Sabtu, 24 Oktober 2015

Apa makna agama bagi manusia? Bisakah manusia hidup tanpa agama? Mengapa orang-orang beragama sering berseteru satu sama lain? Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam ini cukup menggelitik untuk ditemukan jawabannya.


Seorang cendekiawan Muslim yang juga sejarawan, Syekh Muhyiddin al-Khayyath mengatakan, “Agama adalah kebutuhan hidup manusia.”
Beberapa ilmuwan atheis seperti Charles Darwin dan Stephen Hawking boleh saja meragukan atau menafikan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan manusia dan alam semesta. Tetapi mereka tak dapat membungkam kebenaran yang terang, yang dipercaya oleh umat manusia sejak awal keberadaannya, bahwa Tuhan itu ada dan agama adalah ajaran yang disebarkan oleh utusan-Nya.
Kalau kita lihat negara-negara komunis yang identik dengan atheis ataupun negara-negara yang cukup jauh “menjauhkan diri” dari agama, maka akan terlihat kehidupan warga negara yang hedonis dan memiliki angka kejahatan serta bunuh diri yang tinggi. Hal ini adalah bukti nyata bahwa memang apabila manusia jauh dari agama, atau tidak beragama, maka hidupnya akan kacau dan juga mengacaukan. “Akan hidup seperti binatang,” dalam bahasa Syekh Muhyiddin al-Khayyath.
Berbeda halnya saat kita menengok negara-negara yang agamis, baik yang menerapkan aturan agama dalam undang-undangnya maupun yang kental dengan budaya keagamaan, kehidupan warga negara tersebut tampak damai dan sejahtera. Kebahagiaan dan ketenangan terpancar dari wajah-wajah mereka. Memang sebagaimana negara lainnya, juga terjadi kejahatan di negara-negara agamis, tetapi angka kejahatannya jauh lebih kecil dengan angka kejahatan di negara-negara yang tidak agamis.

Lalu bagaimana dengan perselisihan dan perseteruan di antara orang-orang yang beragama? Apakah hal itu bukan bukti bahwa agama sebenarnya tak berpengaruh atau malah tak bermanfaat pada mereka? Untuk menjawab pertanyaan kritis seperti ini, kita juga perlu kritis menganalisis pertanyaannya. Apa latar belakang dari pertanyaan ini? Apakah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik golongan atau malah upaya untuk mereduksi urgensitas agama bagi manusia?
Apabila latar belakang pertanyaan ini adalah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal, maka sebenarnya bukan agamanya yang salah, tetapi barangkali pemahaman dan cara keberagamaannya yang perlu diluruskan.
Pada dasanya semua agama mengajarkan perdamaian dan sikap kasih pada sesama manusia. Kalaupun ada ajaran atau sejarah agama-agama untuk berperang, hal itu tak dapat dijadikan argumen untuk menuduh bahwa agama an sich adalah penyebab perselisihan dan peperangan.


Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko

53 komentar:

  1. Saya sangat setuju dengan pandangan anda, nice info

    BalasHapus
  2. Stuju dengan sikap kritis menghadapi pertanyaan dan kondisi dari luar. Thank you, God bless

    BalasHapus
  3. Cukup baik. Namun bagaimana pandangan keyakinan yang anda anut terhadap.kedamaian? Jika mengajarkan kedamaian, berikan salah satu ayat tenyang kedamaian dalam kitab suci keyakinan anda.

    BalasHapus
  4. Bagus , saya setuju dg anda . God Bless Yoan

    BalasHapus
  5. Yoyon! Tulisan yg menginspirasi.
    terus berkarya ya.
    Jesus Bless You. :)

    BalasHapus
  6. Saya sangat setuju dengan tulisan anda. Teruslah berkarya dan smoga bermanfaat bagi banyak orang. God Bless You !

    BalasHapus
  7. sika kritis memang sangat dibutuhkan untuk menghadapi pertanyaan seputar perbedaan agama. tulisan yang bermanfaat. :)

    BalasHapus
  8. artikel yang sangat menarik, anda sangat kritis dalam menghadapi perseteruan yang diakibatkan perbedaan agama. tulisan anda dapat menginspirasi banyak orang. god bless u :)

    BalasHapus
  9. artikel anda menarik,, menambahkan wawasa,, makasih yoanita :D

    BalasHapus
  10. artikelnya menarik dan menambah pengetahuan :)

    BalasHapus
  11. Tulisan yg menginspirasi dan menambah pengetahuan saya 😊

    BalasHapus
  12. Tulisan yg menginspirasi dan menambah pengetahuan saya 😊

    BalasHapus
  13. saya sangat bersependapat sama dengan artikel anda, dimana memang kenyataannya, agama bukan sutu momok untuk menghalangi tali persaudaraan, namun sebagai alat terbentuknya hubungan kekeluargaan

    BalasHapus
  14. Saya sangat setuju dgn pendapat anda, Lanjutkan..

    BalasHapus
  15. Artikel yang bagus, saya setuju dengan anda
    Gbu ^^

    BalasHapus
  16. Setuju dengan artikel bahwa sebenarnya agama itu tidak pernah mengajarkan kekerasan untuk menciptakan kedamaian. Karena sebenarnya pemahaman oknum2 yg salah ttg agama yg menyebabkan mereka bertindak anarkis dan menyebabkan kerusakan di muka bumi

    BalasHapus
  17. artikel yang bagus, isinya kritis dan ber bobot. tetap berkarya dalam Tuhan ya Prana, God bless :D

    BalasHapus
  18. sangat setuju, karena sebenarnya semua agama mengajarkan kebaikan, tinggal tergantung dari masing-masing pribadinya saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok, Thankyouu, semoga bermanfaat, Godbless

      Hapus
  19. bagus sekali artikelnya, semoga bermanfat bagi kita semua :))

    BalasHapus
  20. Agama itu penting untuk kebutuhan dunia dan akherat

    BalasHapus
  21. Nice, terus lanjutkan karya anda

    BalasHapus
  22. Setuju, emang seharusnya agama itu sebagai pengendali. Tpi gak bisa disalahkan jika ada orang yg menjadi begitu fanatik dengan agama mereka. Karena agama mereka mengajarkan dan memerintahkan perbuatan tersebut. serta arti kata "damai" mungkin juga berbeda tiap agamanya. Menurutku agama itu penting tapi bukan segalanya. Peraturan dan hukum pasti lebih berdampak. Manusia beragama tidak selalu berbuat benar, dan tak beragama tak selalu bersalah.

    BalasHapus
  23. nice article selamat berkarya yg lebih2 lagi

    BalasHapus
  24. blognya bermanfaat banget buat kita semua . keren! <3

    BalasHapus
  25. good post.... semoga ini dapat menjadi pedoman bagi kita semua yaa... ku tnggu post mu selanjutnya GBU

    BalasHapus
  26. post anda sangat bagus dan menginspirasi. terus berkayarya. gbu;)

    BalasHapus
  27. tulisannya sangat bagus dan menginspirasi, lebih banyak belajar ya yon. salam buat pak Greg. GBU

    BalasHapus