Nama : Yoanita Prananingrum
Nim : 15 E1-0103
Dosen : Gregorius Daru w
Bagi kita orang
Kristen, hidup mengasihi adalah sebuah keharusan / sebuah perintah yang
mau tidak mau harus kita lakukan. Tidak perduli karakter kita pendiam,
periang, tegas, bahkan keras sekalipun, tetap kita harus punya kasih.
Bila dalam hidup kita orang Kristen, sama sekali tidak ada kasih, maka
sudah dapat dipastikan bahwa kita bukan orang Kristen, sekalipun KTPnya
Kristen, identitasnya Kristen. ( (Yohanes 13:34-35; I Korintus 13:4-7) –
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling
mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu
harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34)
Di dalam Yohanes 13:35 Tuhan Yesus berkata : “ Dengan demikian semua
orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu
saling mengasihi.” Dengan kata lain, ayat ini berkata: kalau kamu tidak
mengasihi, kamu bukan murid-Ku.
Apa itu kasih & bagaimana seseorang dikatakan sudah hidup di dalam kasih ?
1. Kasih itu sabar.
Sikap sabar adalah sikap yang sangat efektif dalam penyelesaian berbagai
persoalan. Sikap sabar bukanlah sikap lambat, tetapi sikap yang bijak,
tahu kapan waktu yang tepat untuk berbicara, untuk menegur. Orang yang
sabar tidak mudah terpicu oleh emosi. Mereka condong berpikiran jernih
dalam penyelesaian setiap masalah. Orang yang sabar sesungguhnya adalah
orang dapat mengasihi sesamanya, sekalipun sesamanya itu pernah
mengecewakan dirinya.
2. Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri.
Bila kita memperhatikan urutan prioritas dari ajaran kasih Tuhan Yesus,
maka Tuhan Yesus ajarkan urutan demikian : Kasihilah Tuhan Allahmu
dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. Dari ajaran Tuhan ini kita melihat, urutan pertama yang harus
kita kasihi adalah Tuhan, urutan kedua adalah sesama kita. Baru ketiga
adalah diri kita. Jadi di dalam kasih, orang lain harus kita
prioritaskan, baru diri kita.
3. Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Fakta menunjukkan bahwa otak kita memang lebih mudah merekam hal-hal
yang bersifat negatif dari pada hal-hal yang bersifat positif. Hal
positif yang dilakukan orang lain kepada kita seringkali kita lupakan
tetapi sebaliknya hal-hal negatif sulit kita lupakan. Sedangkan Tuhan
kita yang mahatahu semua kesalahan kita, di dalam kasihNya, Tuhan
sengaja melupakan semua kesalahan kita. Maukah kita membuang semua
kepahitan di hati kita ?
4. Kasih itu menutupi segala sesuatu.
Ketika ada orang yang bersalah, maka kasih berusaha untuk menjaga nama
baik orang yang bersalah itu. Kasih tidak mau mencemarkan nama baik
orang lain, kasih tidak mau mempermalukan orang. Di dalam kasih ada
teguran yang bersifat pribadi, teguran di bawah 4 mata. Orang yang
bersalah, dirangkul kembali, diterima apa adanya dan dituntun dalam
jalan yang benar. Itulah kasih sejati.
Rabu, 28 Oktober 2015
Sabtu, 24 Oktober 2015
Apa makna agama bagi manusia? Bisakah manusia hidup tanpa agama? Mengapa
orang-orang beragama sering berseteru satu sama lain?
Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam ini cukup menggelitik untuk
ditemukan jawabannya.
Seorang cendekiawan Muslim yang juga sejarawan, Syekh Muhyiddin al-Khayyath mengatakan, “Agama adalah kebutuhan hidup manusia.”
Beberapa ilmuwan atheis seperti Charles Darwin dan Stephen Hawking boleh saja meragukan atau menafikan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan manusia dan alam semesta. Tetapi mereka tak dapat membungkam kebenaran yang terang, yang dipercaya oleh umat manusia sejak awal keberadaannya, bahwa Tuhan itu ada dan agama adalah ajaran yang disebarkan oleh utusan-Nya.
Kalau kita lihat negara-negara komunis yang identik dengan atheis ataupun negara-negara yang cukup jauh “menjauhkan diri” dari agama, maka akan terlihat kehidupan warga negara yang hedonis dan memiliki angka kejahatan serta bunuh diri yang tinggi. Hal ini adalah bukti nyata bahwa memang apabila manusia jauh dari agama, atau tidak beragama, maka hidupnya akan kacau dan juga mengacaukan. “Akan hidup seperti binatang,” dalam bahasa Syekh Muhyiddin al-Khayyath.
Berbeda halnya saat kita menengok negara-negara yang agamis, baik yang menerapkan aturan agama dalam undang-undangnya maupun yang kental dengan budaya keagamaan, kehidupan warga negara tersebut tampak damai dan sejahtera. Kebahagiaan dan ketenangan terpancar dari wajah-wajah mereka. Memang sebagaimana negara lainnya, juga terjadi kejahatan di negara-negara agamis, tetapi angka kejahatannya jauh lebih kecil dengan angka kejahatan di negara-negara yang tidak agamis.
Lalu bagaimana dengan perselisihan dan perseteruan di antara orang-orang yang beragama? Apakah hal itu bukan bukti bahwa agama sebenarnya tak berpengaruh atau malah tak bermanfaat pada mereka? Untuk menjawab pertanyaan kritis seperti ini, kita juga perlu kritis menganalisis pertanyaannya. Apa latar belakang dari pertanyaan ini? Apakah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik golongan atau malah upaya untuk mereduksi urgensitas agama bagi manusia?
Apabila latar belakang pertanyaan ini adalah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal, maka sebenarnya bukan agamanya yang salah, tetapi barangkali pemahaman dan cara keberagamaannya yang perlu diluruskan.
Pada dasanya semua agama mengajarkan perdamaian dan sikap kasih pada sesama manusia. Kalaupun ada ajaran atau sejarah agama-agama untuk berperang, hal itu tak dapat dijadikan argumen untuk menuduh bahwa agama an sich adalah penyebab perselisihan dan peperangan.
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko
Seorang cendekiawan Muslim yang juga sejarawan, Syekh Muhyiddin al-Khayyath mengatakan, “Agama adalah kebutuhan hidup manusia.”
Beberapa ilmuwan atheis seperti Charles Darwin dan Stephen Hawking boleh saja meragukan atau menafikan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan manusia dan alam semesta. Tetapi mereka tak dapat membungkam kebenaran yang terang, yang dipercaya oleh umat manusia sejak awal keberadaannya, bahwa Tuhan itu ada dan agama adalah ajaran yang disebarkan oleh utusan-Nya.
Kalau kita lihat negara-negara komunis yang identik dengan atheis ataupun negara-negara yang cukup jauh “menjauhkan diri” dari agama, maka akan terlihat kehidupan warga negara yang hedonis dan memiliki angka kejahatan serta bunuh diri yang tinggi. Hal ini adalah bukti nyata bahwa memang apabila manusia jauh dari agama, atau tidak beragama, maka hidupnya akan kacau dan juga mengacaukan. “Akan hidup seperti binatang,” dalam bahasa Syekh Muhyiddin al-Khayyath.
Berbeda halnya saat kita menengok negara-negara yang agamis, baik yang menerapkan aturan agama dalam undang-undangnya maupun yang kental dengan budaya keagamaan, kehidupan warga negara tersebut tampak damai dan sejahtera. Kebahagiaan dan ketenangan terpancar dari wajah-wajah mereka. Memang sebagaimana negara lainnya, juga terjadi kejahatan di negara-negara agamis, tetapi angka kejahatannya jauh lebih kecil dengan angka kejahatan di negara-negara yang tidak agamis.
Lalu bagaimana dengan perselisihan dan perseteruan di antara orang-orang yang beragama? Apakah hal itu bukan bukti bahwa agama sebenarnya tak berpengaruh atau malah tak bermanfaat pada mereka? Untuk menjawab pertanyaan kritis seperti ini, kita juga perlu kritis menganalisis pertanyaannya. Apa latar belakang dari pertanyaan ini? Apakah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik golongan atau malah upaya untuk mereduksi urgensitas agama bagi manusia?
Apabila latar belakang pertanyaan ini adalah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal, maka sebenarnya bukan agamanya yang salah, tetapi barangkali pemahaman dan cara keberagamaannya yang perlu diluruskan.
Pada dasanya semua agama mengajarkan perdamaian dan sikap kasih pada sesama manusia. Kalaupun ada ajaran atau sejarah agama-agama untuk berperang, hal itu tak dapat dijadikan argumen untuk menuduh bahwa agama an sich adalah penyebab perselisihan dan peperangan.
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko
Langganan:
Postingan (Atom)