Kamis, 12 November 2015

Perbedaan itu Indah



Perbedaan agama yang ada di Indonesia menjadi masalah yang sudah dari dulu selalu diributkan. Banyak para pemuka agama dan pemeluk agama yang menganggap agama mereka yang paling benar. Dan menganggap agama yang dianut orang lain itu tidak benar.
Pada dasarnya semua agama mengajarkan kebenaran. Tergantung dari tiap-tiap individu tersebut mengamalkan nilai-nilai agama yang mereka anut kepada masyarakat atau tidak.
Masyarakat bahkan terjebak pada cara berpakaian penganut agama. Simbol keagamaan akan bisa dilihat dari cara berpakaian seseorang, bukannya dinilai dari prilakunya dalam kehidupan. Ketenaran, kekayaan bahkan hingga yang paling parah menjadikan ayat-ayat Tuhan sebagai dalil untuk melakukan pembunuhan atau terorisme atas sesamanya. Penganut agama yang seperti inilah yang disebut sebagai penganut agama yang ‘wrong number’. Salah dalam memahami maksud dari Tuhan akan adanya keragaman agama dalam dunia ini.
              Kebanyakan bagi mereka, kepercayaan akan Tuhan adalah hal yang mutlak bagi manusia. Tak peduli, apakah kepercayaan tersebut bertentangan dengan rasio dan akal sehatnya.
Agama sudah selayaknya tidak lagi dijadikan sebagai alat untuk melakukan pembenaran atas  pembunuhan pada sesamanya. Melainkan ia harus menjadi tali yang menyatukan antara umat yang satu dengan dengan yang lainnya Bertuhan itu baik, tapi jangan pernah melupakan akal dan hati nurani dalam beragama karena selalu ada kemungkinan tokoh agama untuk salah menafsirkan ajaran, dan selalu ada kemungkinan orang jahat untuk memanfaatkan agama demi kepentingannya. Tuhan itu ada 2 jenis, tuhan yang menciptakan alam semesta, dan tuhan palsu yang diciptakan oleh pemuka agama.
                Tuhan palsu yang diciptakan oleh pemuka agama adalah cerminan dari pemuka agama itu sendiri, pemarah, pencemburu, pembohong, suka dipuji, membuat umatnya takut, dan lebih suka mendatangi orang kaya dibanding orang miskin. Manusia lahir dibekali dengan otak oleh tuhan, bukan dengan kitab suci, bukan dengan kitab tafsir, maka semestinya dengan akal lah kita menilai mana tuhan yang asli mana tuhan palsu, mana ajaran yang pantas kita ikuti dan mana yang tidak, dan kita tidak mesti ikut pemahaman yang mainstream (dianggap umum) jika hal itu tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jika ingin bertuhan, maka tuhankanlah Tuhan, jangan menuhankan agama.
                Bagaimana sikap Gereja terhadap agama/kepercayaan lainnya?
Dokumen Gereja: Nostra Aetate
Artikel 1
“Gereja meninjau dengan cermat, sikapnya terhadap agama-agama bukan kristen dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih antar manusia, malah antar bangsa-bangsa. Gereja memandang, terutama apa yang sama pada manusia dan yang membawa kebersamaan hidup. Karena semua bangsa adalah satu masyarakat, mempunya satu asal, sebab Allah menempatkan seluruh manusia di bumi. Semua mempunyai tujuan yang akhir yang satu: Allah. Penyelenggaraan-Nya dan bukti kebaikan-Nya mencakup semua orang.”
Artikel 2
“Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh. 14:16); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.

        Hal konkret yang dapat dilakukan Gereja dalam membangun kerukunana adalah.
-  Gereja perlu membangun kebersamaan dan sikap terbuka terhadap agama dan kepercayaan lain melalui DIALOG
-          Macam-macam dialog yang dapat dilakukan:
·         DIALOG KARYA, keterlibatan dan kebersamaan dalam karya bersama, misalnya terlain dalam organisasi, pengelolaan karya sosial, pendidikan, kerja bakti bersama dll.
·         DIALOG KEHIDUPAN, keterlibatan dan kebersamaan dalam kehidupan nyata sehingga terjalin kerukunan Misalnya, saling memberi salam, silaturahmi, saling mendukung, bertegur sapa, haring pengalaman hidup, menjalin persahabatan dan persaudaraan
·         DIALOG IMAN, keterlibatan dalam saling mengembangkan iman masing-masing , misalnya melalui pemahaman akan nilai iman orang lain, memperdalam iman sendiri, saling tukar pendapat tentang pandangan iman, saling belajar akan kekayaan rohani agama
Bottom of Form

1 komentar:

  1. good article. kita memang tidak boleh berpikiran sempit tentang agama

    BalasHapus