Perbedaan
agama yang ada di Indonesia menjadi masalah yang sudah dari dulu selalu
diributkan. Banyak para pemuka agama dan pemeluk agama yang menganggap agama
mereka yang paling benar. Dan menganggap agama yang dianut orang lain itu tidak
benar.
Pada dasarnya
semua agama mengajarkan kebenaran. Tergantung dari tiap-tiap individu tersebut
mengamalkan nilai-nilai agama yang mereka anut kepada masyarakat atau tidak.
Masyarakat bahkan terjebak pada cara
berpakaian penganut agama. Simbol keagamaan akan bisa dilihat dari cara
berpakaian seseorang, bukannya dinilai dari prilakunya dalam kehidupan.
Ketenaran, kekayaan bahkan hingga yang paling parah menjadikan ayat-ayat Tuhan
sebagai dalil untuk melakukan pembunuhan atau terorisme atas sesamanya.
Penganut agama yang seperti inilah yang disebut sebagai penganut agama yang
‘wrong number’. Salah dalam memahami maksud dari Tuhan akan adanya keragaman
agama dalam dunia ini.
Kebanyakan bagi mereka, kepercayaan akan Tuhan adalah hal yang mutlak bagi manusia. Tak peduli, apakah kepercayaan tersebut bertentangan dengan rasio dan akal sehatnya.
Kebanyakan bagi mereka, kepercayaan akan Tuhan adalah hal yang mutlak bagi manusia. Tak peduli, apakah kepercayaan tersebut bertentangan dengan rasio dan akal sehatnya.
Agama
sudah selayaknya tidak lagi dijadikan sebagai alat untuk melakukan pembenaran
atas pembunuhan pada sesamanya.
Melainkan ia harus menjadi tali yang menyatukan antara umat yang satu dengan
dengan yang lainnya Bertuhan itu baik, tapi jangan pernah melupakan akal dan
hati nurani dalam beragama karena selalu ada kemungkinan tokoh agama untuk
salah menafsirkan ajaran, dan selalu ada kemungkinan orang jahat untuk
memanfaatkan agama demi kepentingannya. Tuhan itu ada 2 jenis, tuhan yang
menciptakan alam semesta, dan tuhan palsu yang diciptakan oleh pemuka agama.
Tuhan
palsu yang diciptakan oleh pemuka agama adalah cerminan dari pemuka agama itu
sendiri, pemarah, pencemburu, pembohong, suka dipuji, membuat umatnya takut,
dan lebih suka mendatangi orang kaya dibanding orang miskin. Manusia lahir
dibekali dengan otak oleh tuhan, bukan dengan kitab suci, bukan dengan kitab
tafsir, maka semestinya dengan akal lah kita menilai mana tuhan yang asli mana
tuhan palsu, mana ajaran yang pantas kita ikuti dan mana yang tidak, dan kita
tidak mesti ikut pemahaman yang mainstream (dianggap umum) jika hal itu tidak
sesuai dengan hati nurani kita. Jika ingin bertuhan, maka tuhankanlah Tuhan, jangan
menuhankan agama.
Bagaimana sikap Gereja terhadap
agama/kepercayaan lainnya?
Dokumen Gereja: Nostra Aetate
Artikel 1
“Gereja meninjau
dengan cermat, sikapnya terhadap agama-agama bukan kristen dalam tugasnya
memupuk kesatuan dan cinta kasih antar manusia, malah antar bangsa-bangsa.
Gereja memandang, terutama apa yang sama pada manusia dan yang membawa
kebersamaan hidup. Karena semua bangsa adalah satu masyarakat, mempunya satu
asal, sebab Allah menempatkan seluruh manusia di bumi. Semua mempunyai tujuan
yang akhir yang satu: Allah. Penyelenggaraan-Nya dan bukti kebaikan-Nya
mencakup semua orang.”
Artikel 2
“Gereja Katolik
tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan
sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup,
kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa
yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan
sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan
dan wajib mewartakan Kristus, yakni “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh. 14:16);
dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah
mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.
Hal
konkret yang dapat dilakukan Gereja dalam membangun kerukunana adalah.
-
Gereja perlu membangun kebersamaan dan sikap terbuka terhadap agama dan
kepercayaan lain melalui DIALOG
-
Macam-macam dialog yang dapat dilakukan:
·
DIALOG KARYA,
keterlibatan dan kebersamaan dalam karya bersama, misalnya terlain dalam
organisasi, pengelolaan karya sosial, pendidikan, kerja bakti bersama dll.
·
DIALOG KEHIDUPAN,
keterlibatan dan kebersamaan dalam kehidupan nyata sehingga terjalin kerukunan
Misalnya, saling memberi salam, silaturahmi, saling mendukung, bertegur sapa,
haring pengalaman hidup, menjalin persahabatan dan persaudaraan
·
DIALOG IMAN,
keterlibatan dalam saling mengembangkan iman masing-masing , misalnya melalui
pemahaman akan nilai iman orang lain, memperdalam iman sendiri, saling tukar
pendapat tentang pandangan iman, saling belajar akan kekayaan rohani agama
good article. kita memang tidak boleh berpikiran sempit tentang agama
BalasHapus